Archive

Archive for May, 2009

‘Pijat’ vs ‘Pijat Plus-Plus’

May 29th, 2009

pijat

Senang dipijat? Kalau begitu sama donnkk dengan saya!!

Saya yakin, banyak dari kita yang senang dipijat. Kalau tidak, tak mungkin ada panti pijat, tukang pijat keliling, dukun pijat bayi, juga salon & spa yang menyediakan fasilitas pijat yang kini kian menjamur (orang lebih senang menyebutnya ‘massage’, katanya lebih keren?!). Pijat itu sendiri diminati karena punya banyak fungsi. Utamanya adalah untuk kesehatan, yakni melancarkan peredaran darah, mengendurkan otot yang kaku, dst.

Setelah pulang dari Jogja kemarin, saya letih sekali. Pegal-pegal seluruh badan ini. Pasalnya, saya & beberapa kawan pergi ke Puncak Suroloyo, Kulonprogo. Untuk mendapatkan keindahan kota magelang dari atas (Candi Borobudur juga kelihatan loh dari sana), ratusan anak tangga harus didaki. Oleh karena tubuh ini jarang dilatih dengan olahraga, perjalanan menanjak rasanya begitu menyiksa betis dan paha. Nafas pun  tersenggal-senggal tak karuan. Keesokannya, sesampainya di Jakarta, saya sudah harus bekerja dari pagi sampai malam di kantor. Kaki rasanya sudah mau copot di hari itu.

Pijat menjadi pilihan saya dalam mengatasi kondisi itu. Saya langsung terbayang-bayang “Kaki Plus” di Jogja, tempat pijat paling cihuy buat saya, harganya murah & rasanya manttaaabbb. Nah di Jakarta? Pengetahuan saya terbatas akan pijat enak di sini. Yang saya tau di Pluit, tapi jauh banget dari tempat saya berada. Akhirnya saya memilih untuk menelepon salah satu Pijat Kesehatan Keluarga “XX” – Layanan 24 jam, yang selebarannya sering dibagi-bagi di kost saya. Lumayan, pikir saya. Tanpa perlu pergi ke luar dan bermacet-macet ria, saya bisa mendapatkan yang saya butuhkan. Harganya pun termasuk murah dibanding pijat yang di salon & spa.

Singkat cerita, saya pun dipijat, wuenaaakkkkk tenannnn ;) Nah, dalam 1.5jam saya dipijat, berceritalah Si Mbak Pijat (kita sebut saja Mbak Tini, bukan nama sebenarnya, namun ini kisah sebenarnya):

“Saya senang mbak kalau diminta bos saya untuk tugas pijat ke kost-kostan, apalagi yang panggil perempuan. Meski malam hari, tenang rasanya hati ini. Kalau yang manggil laki-laki, di atas jam 11 malam, wah saya biasanya was-was. Terutama kalau dapat tugas untuk ke orang  India, Arab, Jepang, Filipina, wah saya ngeri, Mbak. Mereka suka ga sopan. Kalau bule sih masih agak sopan.

Mereka berpikiran pijat yang saya lakukan adalah pijat plus-plus. Jadi ketika saya datang untuk memijat, kelakuan mereka aneh-aneh. Mereka melepas seluruh pakaian, saya minta mereka telungkup, eh maunya terlentang, lalu memasang film biru dan meminta saya melakukan lebih dari sekedar pijat.

Saya biasanya menjelaskan pada mereka bahwa saya ini datang untuk ‘pijat beneran’. Saya ini loh kukunya tidak panjang-panjang, tubuh saya gemuk, saya juga sudah berusia 55 tahun (meskipun jika melihat penampilannya, kita akan berpikir Mbak Tini berusia 35-40tahun)

Beberapa dari mereka, meskipun sudah saya jelaskan, tetap saja memaksa dengan menawarkan bayaran jauh lebih besar. Duh, kalau kejadiannya kayak begini, saya biasanya pura-pura minta ijin ke kamar mandi, kemudian saya kabur. Buat saya mbak, hasil sedikit tidak mengapa asalkan halal.

Menolak untuk pergi tugas? Saya tidak bisa menolak bos saya, mbak. Saya kan ikut dia di sini. Saya juga bisanya cuma pijat. Maunya sih saya buka tempat pijat sendiri, yang benar-benar untuk pijat. Tapi saya SD saja tidak lulus, saya juga ga punya banyak uang. Saya dari kampung mbak, aslinya Ungaran. Anak saya tinggal di situ, sama neneknya. Saya sudah cerai dengan bapaknya, sudah lama. Habis bapaknya suka main perempuan, saya tidak tahan”

Ya, itulah sekelumit cerita dari Mbak Tini malam itu. Miris rasanya hati saya mendengar cerita dari Mbak Tini yang benar-benar ingin bekerja dengan baik di dunia pijat-memijat. Citra pekerja pijat dan panti pijat dari dulu memang identik dengan dunia prostitusi.

Ada tempat-tempat pijat yang embel-embelnya ’sehat’, ‘bersih’, ‘keluarga’, namun di dalamnya banyak kemesuman terjadi. Tapi, banyak juga tempat pijat yang meskipun embel-embelnya ‘plus’ seperti tempat pijat favorit saya di jogja, namun dapat saya garansi ‘kebersihan’nya (karena maksud ‘plus’ pada kata ‘kaki-plus’ di sini adalah pijat kaki, plus tangan, plus punggung J)

Melihat keadaan seperti ini, saya sangat berharap adanya pemisahan yang jelas antara dunia pijat-memijat yang saya cintai ini dengan dunia pijat plus-plus atau prostitusi. Tidak, saya tidak akan berbicara banyak tentang dunia prostitusi kali ini. Itu topik yang lain lagi.

Saat ini, saya hanya berharap pemerintah punya kebijakan yang bijaksana untuk dunia pijat-memijat ini, jangan sampai mereka yang benar-benar ingin bekerja memijat dengan tujuan mulia yakni menyehatkan konsumen, malah menjadi objek penderita karena konsumennya mesum.

Sedikit tentang kebijakan pemerintah, saya tidak setuju jika caranya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kota Batu Malang yang mewajibkan pegawai perempuan di panti-panti pijat Kota Batu menggunakan gembok pada pakaian dalamnya guna mencegah tindakan tak patut dari konsumen. (Mengapa bukan sebaliknya ya: tangan dan pakaian dalam konsumennya yang digembok, misalnya, hehehe.  Namun dua cara tersebut, tetaplah tidak bijaksana).

CCTV yang dapat dipantau oleh kantor tempat pijat mungkin bisa menjadi alternatif. Atau ruang pijat bersama yang lebih terbuka (hanya disekat oleh kain atau sekat separuh ruangan. Atau kebijakan lain yang tentunya pemerintah bisa memikirkannya karena harusnya pemerintah jauh lebih pintar dari saya.

Saya juga berharap pada para pemilik jasa pijat untuk tidak membuka jasa pijat tersebut 24 jam. Kasihan bukan para pekerja Anda. Bagi manusia normal pada umumnya, malam sampai pagi  adalah jam biologis untuk istirahat, bukan bekerja.

Terakhir, saya berharap pada para pembaca untuk membedakan para pekerja pijat dan para pekerja plus-plus. Mereka berbeda loh. Memang sih ada kesamaannya. Keduanya menghasilkan tubuh yang lebih rileks. Tapi perbedaannya, setelah dipijat beneran, badan segar, hati pun tentram. Tapi pijat plus-plus, badan boleh segar, tapi hati? :D


Author: virtri Categories: politikana Tags:

Yuk Naik Pesawat Indonesia!

May 26th, 2009

pesawat

Saya baru saja mendarat dalam perjalanan Jakarta – Jogja. Naik salah satu maskapai penerbangan negeri ini yang terkenal dengan harga murahnya. Awalnya saya sempat khawatir, mengingat maraknya kecelakaan di udara belakangan ini. Namun apa daya, dompet saya mengarahkan saya naik pesawat ini! :)

Dalam perjalanan tadi, tiba-tiba terlintas di benak saya: hidup di suatu negara itu tak ubahnya seperti naik pesawat, tentu saja dengan kompleksitas yang berbeda.

Kita namakan saja negara yang saya diami ini bernama Pesawat Indonesia. Kapten penerbangan, yakni si pilot adalah presidennya. Di sampingnya duduk co-pilot, yaitu wakil presiden. Awak kabin adalah mereka yang duduk di pemerintahan lainnya (misalkan para menteri, anggota  DPR, dsb) yang bertugas melayani (catat: melayani!) kita para penumpangnya, yang saya analogikan sebagai penduduk bangsa, yang sudah membayar tiket untuk naik pesawat tersebut. Anggap saja tiket adalah pajak yang kita bayarkan untuk memberikan gaji pada mereka.

Pesawat Indonesia ini sedang terbang menuju suatu tempat, yakni kehidupan bangsa yang lebih baik.

Bayangkan jika awak kabin tidak bekerja dengan baik. Mereka memberikan petunjuk prosedur keselamatan dengan asal-asalan, bukannya menyapa kita dengan senyum tulus, eh malah marah-marah sambil teriak-teriak, lalu bukannya membantu penumpang untuk menyimpan barang bawaannya di kabin, eh malahan mengambil isi barang bawaan para penumpang tanpa ketahuan (hmm, jadi mengingatkan saya pada korupsi yang terjadi di negeri ini). Tentu kita sangat tidak nyaman dengan keadaan ini.

Kemudian, bayangkan jika sang pilot dan ko-pilot tidak bekerja dengan benar. Dalam mengendalikan pesawat mereka main-main, sembarangan pencet2 tombol, sibuk foto-foto bergaya untuk dipasang di facebook, atau mungkin malah main catur berduaan. Alhasil, pesawat akan melaju dengan naik turun, ke kanan ke kiri dan oleng tak karuan. Mual dan mabuk akan menjadi santapan utama para penumpang selama di pesawat.

Dan para penumpang tak bisa sembarangan minta diturunkan di tengah-tengah perjalanan seperti halnya naik bis atau ojek. Jika pun dibolehkan turun,  meski minum Coca Cola Zero atau Sprite Zero lima galon, rasanya tetap saja kita tidak bisa melayang di udara dan mendarat dengan selamat.

Sementara, melalui kaca jendela kita melihat pesawat-pesawat lain, yakni pesawat-pesawat luar negeri. Pesawat-pesawat itu  melaju dengan cantiknya, mulus sekali. Beberapa penumpang yang memiliki teropong mencoba melihat ke bagian depan pesawat-pesawat itu. Ah, betapa seriusnya pilot dan ko-pilot dalam mengemudikan pesawat. Dan raut muka-muka itu, mereka menampakkan rasa tanggung jawab terhadap keselamatan pesawat dan penumpangnya. Lalu, ada penumpang yang dengan sengaja memperhatikan seragam pilot-pilot tersebut. Pada bagian label namanya terbaca gelar edukasi pilot-pilot tersebut. Fiuh, wajar saja jika demikian, ujarnya.

Banyak dari pesawat-pesawat itu yang lepas landas (baca: merdeka) setelah Pesawat Indonesia lepas landas. Namun saat ini, posisi pesawat-pesawat tersebut telah melesat jauh di depan pesawat Indonesia, ribuan langkah lebih maju bahkan.

Saya pun berhenti melamun dan mencoba berpikir realistis. Ah, tidak sepenuhnya kehidupan berbangsa dan  bernegara ini seperti halnya ketika kita naik ‘Pesawat Indonesia’ yang saya ceritakan rupanya. Iya, sebagian besar dari kita tidak bisa memilih mau menjadi warga negara Indonesia atau tidak. Lebih sering keadaannya adalah keadaan terpaksa. Plong, oeekkk…oeekkk.. ketika keluar dari rahim ibu kita, kita memiliki orang tua yang adalah penduduk Indonesia. Mau pindah kewarganegaraan, repot & mahal. Akhirnya kita memilih untuk tetap menjadi bangsa ini.

Tapi kita bukan bangsa yang pasif, penumpang pesawat yang tidak bisa apa-apa. Kita bisa menentukan siapa yang pantas menjadi awak kabin kita, dan terutama siapa pilot dan ko-pilot kita, apakah mereka berkompetensi memimpin penerbangan ini atau tidak. Kita punya hak untuk menentukan ke mana Pesawat Indonesia ini akan menuju dengan memilih presiden, wakil presiden, dan pemerintah yang tepat.

Selamat menyongsong pemilu presiden! :)

*bandara adi sutjipto, jogjakarta -

Author: virtri Categories: politikana Tags:

ini gayaku, gayamu?

May 13th, 2009

Kaos putih dan celana jeans biru. Itu menu utamanya. Menu tambahannya adalah tas hitam kecil dan sandal jepit hitam legam.

Aku suka menggunakan kaos putih. Sebagai orang yang ingin sekali menggemukkan tubuhnya, warna putih yang dipercaya memiliki efek ‘menggemukkan’ sedikit banyak mempengaruhiku memilih warna ini sebagai warna favoritku. Namun, faktor utamanya lebih karena aku melihat tidak ada yang lebih keren dari paduan kaos putih dengan celana jeans!

Celana jeans biru dengan warna yang sedikit pudar. Meski aku hanya memiliki 2 buah (salah satunya sudah berumur 6 tahun! sahabatku selalu berkata aku harus segera mencari celana jeans baru! hehehe), aku menyukai kala aku menggunakannya.

Tas hitam kecil. Tempat menaruh telepon seluler, dompet, dan kunci mobil. Tas itu bisa kuselempangkan sehingga kedua tanganku bebas bergerak ke atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri. Bisa senam deh pokoknya! :p

Terakhir, sandal jepit hitam. Sandal yang bisa membuat kakiku bernapas lega menghirup segarnya udara dan tentu saja sangat menyehatkan karena tidak memiliki hak yang bisa membuatnya senut-senut  tak karuan.

Jika aku sedang berpergian jauh, ada satu tambahan menu: tas ransel yang berisi buku dan sejumlah kecil pakaian.

Ya, itu saja. Ini gayaku, gayamu?

Author: virtri Categories: Uncategorized Tags:

Ilmu Komunikasi kok di FISIPOL

May 1st, 2009

Saya alumnus mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Jogja. Awal dulu saya masuk kuliah, terus terang saya bingung. Mengapa jurusan ini berada di Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik (Fisipol) dan bukan mendirikan fakultas sendiri, seperti halnya di Bandung. Di Jakarta juga demikian, ilmu komunikasi masuk dalam jajaran ilmu-ilmu di Fisip (saat ini saya juga belum tahu kenapa kalau di Jogja disingkat Fisipol, sedangkan di Jakarta disingkat Fisip)

Dalam bayangan saya dulu, dengan kuliah di jurusan Komunikasi, saya akan banyak belajar teori-teori mengenai Kepenyiaran, Jurnalistik, Periklanan, atau Hubungan Masyarakat (konon bagi bangsa yang suka kebarat-baratan ini, nama kerennya Hubungan Masyarakat adalah Public Relation atau Corporate Relation dan nama ga kerennya: Jubir! Ups! ). Atau setidaknya, di jurusan ini saya bisa belajar bagaimana berbicara depan publik dengan lebih baik. Sehingga ketika nanti saya diminta berpidato di acara ulang tahun saya sendiri, saya tidak menjadi gugup.

Saya kemudian beranggapan, mungkin saja karena universitas saya ini tidak punya cukup banyak uang (dulu loh ya!) untuk mendirikan satu fakultas lagi, yakni untuk satu jurusan: Ilmu Komunikasi. Kalau ini masalahnya, saya punya sebuah pendapat, mengapa tidak dimasukkan saja ke dalam Fakultas Psikologi. Toh komunikasi terkait erat dengan ilmu tentang diri. Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, manusia harus mengerti tentang dirinya sendiri dulu kan, bagaimana kepribadiannya, dan seterusnya. Memang, hal ini juga menjadi ambigu ketika pusat kajian hanya diri. Bagaimana jika kelak ilmu komunikasi menjadi salah arah dan malah membuat orang suka berbicara sendiri (dan senyum-senyum sendiri).

Fakultas Ilmu Sosial. Mungkin jika berhenti sampai di situ saja, saya bisa dengan lapang dada menerimanya. Komunikasi setidaknya membutuhkan dua pihak: pemberi pesan dan penerima pesan. Ada hubungan sosial yang terjalin di situ. Ya, itu lebih tepat pikir saya, FIS: Fakultas Ilmu Sosial.

Jadi, sebenarnya yang mengganjal saya itu adalah kata “ilmu politik”-nya itu loh. Politik dulu saya yakini sebagai ilmu yang bersaudara dengan kekuasaan dan hal-hal seram lainnya. Kalau Ilmu Hubungan Internasional itu wajar dilabelkan politik. Ilmu Pemerintahan apalagi. Lha Komunikasi?

Untunglah saya tidak berlama-lama terkebak dalam ruang tanda tanya saya. Kuliah demi kuliah yang saya ikuti akhirnya memberi gambaran secara lugas bahwa kajian komunikasi itu jelas: media. Apapun mata kuliahnya: kepenyiaran, jurnalistik, periklanan, hubungan masyarakat, dst., kita mempelajari media; media sebagai pembawa pesan.

Saya pun juga bisa melihat politik tidak dengan kacamata seram lagi, namun lebih jernih. Saya suka dengan arti politik yang diberi oleh Aristoteles: usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Akhirnya saya mengerti bahwa ilmu komunikasi tidak saja berkawan erat dengan ilmu sosial namun juga bersahabat dekat dengan ilmu politik. Media menjadi tidak bermakna jika ia berada dalam ruang hampa; berdiri sendiri. Ia menjadi berperan ketika ia ditempatkan dalam suatu sistem sosial dan memberi nilai untuk menwujudkan kebaikan bersama. Politikana semoga bisa menjadi salah satunya.

(baru mendaftarkan diri menjadi warga politikana.com nih)

Author: virtri Categories: politikana Tags: