Archive for » May, 2009 «

‘Pijat’ vs ‘Pijat Plus-Plus’

pijat

Senang dipijat? Kalau begitu sama donnkk dengan saya!!

Saya yakin, banyak dari kita yang senang dipijat. Kalau tidak, tak mungkin ada panti pijat, tukang pijat keliling, dukun pijat bayi, juga salon & spa yang menyediakan fasilitas pijat yang kini kian menjamur (orang lebih senang menyebutnya ‘massage’, katanya lebih keren?!). Pijat itu sendiri diminati karena punya banyak fungsi. Utamanya adalah untuk kesehatan, yakni melancarkan peredaran darah, mengendurkan otot yang kaku, dst.

Setelah pulang dari Jogja kemarin, saya letih sekali. Pegal-pegal seluruh badan ini. Pasalnya, saya & beberapa kawan pergi ke Puncak Suroloyo, Kulonprogo. Untuk mendapatkan keindahan kota magelang dari atas (Candi Borobudur juga kelihatan loh dari sana), ratusan anak tangga harus didaki. Oleh karena tubuh ini jarang dilatih dengan olahraga, perjalanan menanjak rasanya begitu menyiksa betis dan paha. Nafas pun  tersenggal-senggal tak karuan. Keesokannya, sesampainya di Jakarta, saya sudah harus bekerja dari pagi sampai malam di kantor. Kaki rasanya sudah mau copot di hari itu.

Pijat menjadi pilihan saya dalam mengatasi kondisi itu. Saya langsung terbayang-bayang “Kaki Plus” di Jogja, tempat pijat paling cihuy buat saya, harganya murah & rasanya manttaaabbb. Nah di Jakarta? Pengetahuan saya terbatas akan pijat enak di sini. Yang saya tau di Pluit, tapi jauh banget dari tempat saya berada. Akhirnya saya memilih untuk menelepon salah satu Pijat Kesehatan Keluarga “XX” – Layanan 24 jam, yang selebarannya sering dibagi-bagi di kost saya. Lumayan, pikir saya. Tanpa perlu pergi ke luar dan bermacet-macet ria, saya bisa mendapatkan yang saya butuhkan. Harganya pun termasuk murah dibanding pijat yang di salon & spa.

more »

Yuk Naik Pesawat Indonesia!

pesawat

Saya baru saja mendarat dalam perjalanan Jakarta – Jogja. Naik salah satu maskapai penerbangan negeri ini yang terkenal dengan harga murahnya. Awalnya saya sempat khawatir, mengingat maraknya kecelakaan di udara belakangan ini. Namun apa daya, dompet saya mengarahkan saya naik pesawat ini! :)

Dalam perjalanan tadi, tiba-tiba terlintas di benak saya: hidup di suatu negara itu tak ubahnya seperti naik pesawat, tentu saja dengan kompleksitas yang berbeda.

Kita namakan saja negara yang saya diami ini bernama Pesawat Indonesia. Kapten penerbangan, yakni si pilot adalah presidennya. Di sampingnya duduk co-pilot, yaitu wakil presiden. Awak kabin adalah mereka yang duduk di pemerintahan lainnya (misalkan para menteri, anggota  DPR, dsb) yang bertugas melayani (catat: melayani!) kita para penumpangnya, yang saya analogikan sebagai penduduk bangsa, yang sudah membayar tiket untuk naik pesawat tersebut. Anggap saja tiket adalah pajak yang kita bayarkan untuk memberikan gaji pada mereka.

Pesawat Indonesia ini sedang terbang menuju suatu tempat, yakni kehidupan bangsa yang lebih baik.

more »

ini gayaku, gayamu?

Kaos putih dan celana jeans biru. Itu menu utamanya. Menu tambahannya adalah tas hitam kecil dan sandal jepit hitam legam.

Aku suka menggunakan kaos putih. Sebagai orang yang ingin sekali menggemukkan tubuhnya, warna putih yang dipercaya memiliki efek ‘menggemukkan’ sedikit banyak mempengaruhiku memilih warna ini sebagai warna favoritku. Namun, faktor utamanya lebih karena aku melihat tidak ada yang lebih keren dari paduan kaos putih dengan celana jeans!

Celana jeans biru dengan warna yang sedikit pudar. Meski aku hanya memiliki 2 buah (salah satunya sudah berumur 6 tahun! sahabatku selalu berkata aku harus segera mencari celana jeans baru! hehehe), aku menyukai kala aku menggunakannya.

Tas hitam kecil. Tempat menaruh telepon seluler, dompet, dan kunci mobil. Tas itu bisa kuselempangkan sehingga kedua tanganku bebas bergerak ke atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri. Bisa senam deh pokoknya! :p

Terakhir, sandal jepit hitam. Sandal yang bisa membuat kakiku bernapas lega menghirup segarnya udara dan tentu saja sangat menyehatkan karena tidak memiliki hak yang bisa membuatnya senut-senut  tak karuan.

Jika aku sedang berpergian jauh, ada satu tambahan menu: tas ransel yang berisi buku dan sejumlah kecil pakaian.

Ya, itu saja. Ini gayaku, gayamu?

Ilmu Komunikasi kok di FISIPOL

Saya alumnus mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Jogja. Awal dulu saya masuk kuliah, terus terang saya bingung. Mengapa jurusan ini berada di Fakultas Ilmu Social dan Ilmu Politik (Fisipol) dan bukan mendirikan fakultas sendiri, seperti halnya di Bandung. Di Jakarta juga demikian, ilmu komunikasi masuk dalam jajaran ilmu-ilmu di Fisip (saat ini saya juga belum tahu kenapa kalau di Jogja disingkat Fisipol, sedangkan di Jakarta disingkat Fisip)

Dalam bayangan saya dulu, dengan kuliah di jurusan Komunikasi, saya akan banyak belajar teori-teori mengenai Kepenyiaran, Jurnalistik, Periklanan, atau Hubungan Masyarakat (konon bagi bangsa yang suka kebarat-baratan ini, nama kerennya Hubungan Masyarakat adalah Public Relation atau Corporate Relation dan nama ga kerennya: Jubir! Ups! ). Atau setidaknya, di jurusan ini saya bisa belajar bagaimana berbicara depan publik dengan lebih baik. Sehingga ketika nanti saya diminta berpidato di acara ulang tahun saya sendiri, saya tidak menjadi gugup.

Saya kemudian beranggapan, mungkin saja karena universitas saya ini tidak punya cukup banyak uang (dulu loh ya!) untuk mendirikan satu fakultas lagi, yakni untuk satu jurusan: Ilmu Komunikasi. Kalau ini masalahnya, saya punya sebuah pendapat, mengapa tidak dimasukkan saja ke dalam Fakultas Psikologi. Toh komunikasi terkait erat dengan ilmu tentang diri. Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, manusia harus mengerti tentang dirinya sendiri dulu kan, bagaimana kepribadiannya, dan seterusnya. Memang, hal ini juga menjadi ambigu ketika pusat kajian hanya diri. Bagaimana jika kelak ilmu komunikasi menjadi salah arah dan malah membuat orang suka berbicara sendiri (dan senyum-senyum sendiri).

more »