Archive for » 2008 «

Mari bermimpi (dan mewujudkannya)

“banyak orang bermimpi, beberapa diantaranya bangun dan mewujudkan mimpi itu” (aku pernah membaca kutipan ini, entah siapa yang menulisnya aku lupa)

Belakangan ini aku dilanda (baik disengaja maupun tidak) percakapan-percakapan tentang mimpi dengan sahabat-sahabatku.  Aku selalu suka dengan mereka yang mempercakapkan mimpi mereka. Cemerlangnya binar bola mata, luapan emosi hati yang bergairah, rona pipi yang berseri, dan senyum yang mengembang pasti muncul tanpa terasa.

Seorang sahabat kost-ku punya sebuah mimpi. Dengan berapi-api dia bercerita mimpinya yang ingin membuka sebuah cafe. Konsepnya sudah dia pikirkan: cafe yang ramah, yang personal pada tiap pengunjungnya; terinspirasi kisah Starbucks, katanya. Dan yang terutama, mimpi itu ada karena dia menyukai kopi.

Sahabatku yang lain memiliki mimpi: berjuang untuk mereka yang termarginalkan. Dengan profesinya saat ini, ia mulai membangun mimpinya: berjuang dengan coretan tintanya. Dalam cakap kami di perjalanan sragen – jogja, setelah kami lama tak bersua, menggebu-gebu ia bercerita tentang apa yang ia akan raih.

Aku juga punya mimpi. Mimpi sederhana. Punya sekolah di depan rumah.

more »

dia

aku bertemu lagi dengannya tadi malam.

sebenarnya aku sudah lama mengenalnya. kamu yang mengenalkanku padanya. kamu sudah mengenal dia jauh sebelum kamu mengenal aku.

aku pikir aku sudah cukup mengenalnya, hingga tadi malam datang. pengenalanku ternyata belum cukup dalam. banyak hal yang belum kumengerti tentangnya.

tadi malam kami bertengkar (meskipun aku tidak yakin jika itu didefinisikan dengan kata bertengkar). saat itu, dia mendengarkan semua keluhku, sebalku, marahku, sedihku, dan raguku; padanya. aku jadi sangat kekanak-kanakkan. aku pikir, harusnya itu menjadi saat yang tepat juga untuknya jika dia ingin mengungkapkan hal yang sama: berkeluh, sebal, ragu dan marah padaku. ah, akan menjadi pertengkaran yang seru pastinya!

tapi tidak. dia tidak terpancing dengan emosiku. dia hanya sempat nyatakan sedih; itu pun tak lama. dan yang dia lakukan kemudian adalah mendengar, mendengarkan dan mendengarkanku, lalu ketika aku sudah mulai tenang, dia mengambil suatu sikap, sikap yang benar-benar bijak; sangat dewasa.

aku heran di mana dia mendapatkan kebijaksanaan itu; kedewasaan itu. kamu tak pernah sekalipun menceritakan padaku dari mana hal yang dimiliki dia itu berasal.

bagiku dia sangat luas dan dalam.

dia : hatimu.

berkarya

beberapa saat yang lalu aku dan seorang kawan bercakap-cakap mengenai kerja. ada satu bagian yang cukup menghenyakkanku; ketika ia memberikan pendapatnya mengenai aku: aku dan kerjaku.


“bagiku, kamu belum menunjukkan apa yang telah kamu capai dan hendak kemana kamu melangkah. jika kuandaikan, kerja dan karir adalah bagaimana kita membangun jalan atau jembatan; apa yang kamu lakukan saat ini hanya mengumpulkan bahan-bahan atau materialnya terus. kamu mengumpulkan dan terus mengumpulkan, namun belum juga mulai membangun. kamu sudah punya banyak, namun kamu belum memulainya juga. kamu seperti anak kecil yang senang bermain-main dengan dunianya.”


untuk seorang aku yang sering mendapat input sebaliknya, tentu saja hal ini cukup mengagetkanku. ternyata pendapat orang mengenai aku dan kerjaku cukup beragam. aku yakin kamu juga punya pendapatmu sendiri tentang aku.

aku senang dengan orang-orang yang jujur mengatakan pendapatnya tentangku. buatku, sah-sah saja ketika orang menilai (aku pun juga sering menilai orang lain).

more »

meskipun kamu cantik

"Aku kangen, wallpaperku gambar kamu lagi ngiler bikin tambah kangen" demikian bunyi layanan pesan pendek yang dikirim sahabatku tadi siang.

Huh, cantik benarrrrrr!!!!!!!!!
(baca: ini cara baruku memaki orang setelah ‘kurang ajarrr’ dan ‘ga sopaaannnnn’)

Dia berlebihan. Aku tahu tentang gambar itu. Gambar aku yang tertidur sesaat di bangku panjang stasiun di kota berhati nyaman. Jelek memang; mata terpejam, mulut yang sedikit terbuka (untuk tidak mengatakannya menganga), tapi tidak sedang mengiler kok, sungguh (aku memang ngileran, tapi tidak di tempat umum. di tempat umum aku hanya ngiler terhadap laki-laki keren, hihihi)

Dia berhasil mengambil gambar itu beberapa hari yang lalu ketika kami menunggu datangnya kereta tengah malam dari barat. Menunggu selama kurang lebih 3.5 jam dengan mata berat tertahan di pergantian hari membuat kami sangat lelah; bertarung dengan jam biologis yang biasanya digunakan untuk lelap dalam mimpi.

Mungkin gambar itu adalah gambar terjelek dari segelintir gambar jelek yang kupunya (gambar-gambarku biasanya cantik-cantik, jikapun ada yang jelek, biasanya langsung kuhapus, tidak kusimpan, huehehe). Tapi dia justru menyukainya, menjadikannya wallpaper.

Aku jadi teringat akan ungkapan Gregory pada Rose dalam film ‘the mirror has two faces’ (film yang darinya lahir lagu kesukaanku, ‘i finally found someone’):

"Aku tetap mencintaimu, meskipun kamu cantik"