Mencari Bintang

Jakarta, minggu pertama di bulan Januari.

Langit terlihat jelas dari balkon kamar kost-ku. Kost yang bernuansa kuno yang berada di sudut lantai dua, memiliki atap rendah sehingga menjadikannya hangat, dan balkon kecil untuk mempercantik kamar yang sudah manis. Bintang bertabur di langit. Bagus. Tapi tidak ada bintang yang kucari.

Surabaya, minggu kedua Januari.

Kepindahanku ke Jawa Timur diawali di kota ini. Hawa panas dari lumpur Sidoarjo dapat kurasakan dari kantor dan hotel yang letaknya tidak jauh dari Bandara Juanda. Aku mencarinya di malam hari, tidak kutemukan. Mungkin dapat kucari pada siang hari, pikirku. Tapi ternyata sinar matahari yang menyengat membuatku tak dapat menatap langit untuk mencari bintang di siang hari. Atau mungkin debu yang menghalangi pandangan mataku.

Bali, minggu ketiga Januari.

Pantai Kuta. Aku senang sekali berada di sini selama lima hari. Menatap keindahan matahari yang melangkah perlahan ke peraduannya. Jingga membayang di garis pantai dan langit. Pencarianku akan bintang belum berakhir. Jika di langit malam dan siang sulit kutemukan, lebih baik kucari pada hamburan pasir pantai pada senja di Kuta. Banyak bintang laut yang terhampar ke tepian. Tapi, lagi-lagi aku tak mendapatkan yang kucari.

Malang, minggu keempat Januari.

Siapa bilang aku putus asa mencarinya. Langit boleh tidak memberiku bintang yang kucari, siang boleh saja menghalangi pandangan mataku untuk menemukannya, pantai bisa jadi menyembunyikannya dariku. Aku tak putus asa. Aku mencarinya di gunung. Aku ke tempat yang tinggi di Malang; di Batu. Dingin, sejuk, menyenangkan. Tapi… aku tetap tak berhasil mendapatkan bintang yang kucari.

Akhir Januari

Aku menyerah, aku menundukkan kepalaku.

Dan hey, aku menemukannya!

Ada bintang yang kucari:

di hatiku.

temani aku

Malam pekat. Lampu kumatikan. Jadinya gelap. Aku terlelap. Kubermimpi. Tidak bagus. Aku tidak suka. Ingin terbangun. Namun tak kuasa. Kepayahan. Kelelahan. Ku tetap berusaha. Susah. Aku belum terbangun juga. Letih. Aku ingin bangun. Iya, keluar dari mimpi ini. Ayo bangun. Tidak bisa. Mimpi itu terus mengejarku. Ayo, aku bisa, kataku. Berusaha. Berusaha. Berusaha. Aku tersentak. Aku berhasil. Aku bangun. Aku terengah.

Kucari telepon selulerku. Kuraih. Kucari namamu. Kutekan tombol hijau. Aku menghubungimu. Aku mendapatkanmu. Aku mendengar suaramu. Suara yang selalu membuatku tentram.

"Aku bermimpi buruk. Temani aku."

"Iya, aku temani kamu."

"…"

"…"

Hanya dalam seketika aku terlelap lagi dengan headphone menempel di telinga; dengan rasa nyaman yang menempel di hati.

Terima kasih ya.

WordPress Themes