tidak perlu judul

Stasiun Gambir, Hari Bebas, Malam.


Telah lama aku tidak ke tempat ini. Seperti halnya di tiap sudut ruang publik yang

ramai, ketika sampai di dalamnya, aku berdiri sejenak untuk memandangi dan

menikmati pemandangan peluh dan keluh beratus manusia dengan beribu raut dan

rupa. Menyenangkan.

Aku menatap loket-loket yang berjejer seraya mencari kata Bandung di kolom tujuan.

Arloji di tangan kananku menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh. Aku kehilangan

Parahyangan terakhir. Masih ada Argo Gede. Selisih tiga puluh ribu rupiah. Tak

mengapa, pikirku. Rindu yang sudah menyeruak tak membuatku berpikir lama untuk

membeli satu lembar tiketnya.

Masih ada 40 menit sebelum kereta berangkat. Aku membeli satu kotak makanan

Jepang siap saji untuk membungkam perutku dari masuknya angin malam. Sesekali

aku menghubungimu dengan deret kata dalam telepon genggamku. Kamu

menungguku, sambil menyeruput coklat panas.

Dua jam empat puluh menit lamanya perjalanan kereta yang kunaiki. Dibandingkan

dengan perjalanan daratku lainnya pada waktu-waktu yang silam, harusnya 2,40

adalah waktu yang sangat singkat. Namun entah apa yang membuatnya menjadi

perjalanan terlama sepanjang hidupku. Degup jantung yang berdebar, kantuk yang

tertahan, rindu yang menggebu; mungkin itu alasannya.

Stasiun Hall, pukul sepuluh lewat dua puluh. Keretaku tiba. Kamu berdiri di sana. Di

satu tempat, dengan senyum mengembang. Kita bersua lagi setelah sepertujuh belas

koma tiga puluh tiga tahun yang terasa sangat lama.

Aku senang sekali.


(Hey, terima kasih untuk judulnya, ya… :) )

2 Comments

  • By forida, November 16, 2006 @ 3:27 am

    siapa Vir?

  • By zaHiR, November 16, 2006 @ 5:42 pm

    tilisan kakak ko keren2 sih…
    bagus….
    dedicated buat sapa…
    suit-suit…

Other Links to this Post

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

WordPress Themes