Pagi ini hujan

Pagi ini hujan. Aku berada di lantai tiga, duduk dekat dengan jendela. Aku bisa melihat dengan jelas rintiknya, bukan gerimis, bukan deras. Menawan. Ingin ku berlari di bawahnya.

Pagi ini hujan. Hujan di akhir november, sejuk, mengingatkanku pada natal yang semakin mendekat. Aku suka.

Pagi ini hujan. Ada rindu yang menelusup dalam hati. Hangat.

Pagi ini hujan. Hujan yang tidak dingin, namun hangat.

makan siang

191106_1223 Nama mereka Izah dan Fitri. Waktu aku temui, Izah sedang duduk menangis di atas trotoar sementara Fitri sedang berjalan menghampiri sebuah mobil, menyanyikan sepenggal bait lagu, mengulurkan tangannya, kemudian pergi ke mobil yang lain.

Saat itu siang, hari matahari. Bukan hanya pada saat hari matahari kurasa. Belakangan ini suhu kota Jakarta (juga daerah lainnya), meningkat cukup drastis. Panas begitu menyengat, peluh yang keluar dari tubuh dalam seketika menguap ditelan terik.

“Makan siang, yuk!” ajakku pada mereka, “belum makan kan?”

Mereka mengangguk.

“Mau makan di mana?” tanyaku.

Mereka tidak menjawab, hanya berpandang-pandangan sambil tersipu-sipu.

“Kita makan di situ ya!” aku menunjuk sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari tempat kami berdiri “kita makan ayam dan minum es krim, oke?”

Sekali lagi, mereka hanya mengangguk dan tersenyum.

Dua gadis mungil yang manis dengan penampilan tak terawat. Izah kelas dua, Fitri kelas lima. Bapak Izah yang seorang loper koran kini telah tiada, tinggal seorang ibu yang acap menjual nasi. Bapak Fitri seorang supir dan ibunya tidak bekerja. Jumlah keluarga yang besar, membuat mereka mengamen karena keadaan dan bukan karena pilihan.

Aku tidak tahu, apakah makan siang tadi itu menjadi hadiahku buat mereka atau tidak.

Namun bagiku, aku mendapat hadiah yang besar dari mereka:

senyum-senyum mereka yang begitu tulus.

- aku semakin mengerti maksud Tuhan ketika Ia mengatakan “Adalah lebih bahagia memberi daripada menerima” -

keluh

Minggu pagi. Aku pergi ibadah di sebuah gereja di Panglima Polim. Meski aku memiliki phobia pada ketinggian, duduk di balkon adalah kesukaanku. Mengambil tempat yang satu garis lurus dengan mimbar pendeta, hingga leherku tidak perlu sakit menoleh ke kanan atau ke kiri, dan mataku berhenti sejenak dari kebiasaan melirik-lirik, hihihi.

Suasana teduh. Semua telah siap. Ibadah dimulai. Pada lagu pertama, pendeta yang memimpin ibadah memasuki ruangan. Dan aku terkesiap!

Pagi itu, ibadah dipimpin seorang pendeta yang kukenal melalui tulisan-tulisannya. Pendeta itu sudah tidak muda lagi. Entah karena usia atau karena sakit yang menimpa, beliau jalan tertatih-tatih, tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya seorang diri. Perlu dua orang majelis yang mengapit tangannya untuk menyanggah tubuhnya dari gontai.

Tak kuasa untuk menaiki tangga, beliau menggunakan mimbar yang di bawah, yang sejajar dengan jemaat. Ketika kedua tangan telah menggapai mimbar, beliau dilepas dan mulai memimpin ibadah.

Votum diucapkan, salam disampaikan, pujian dihaturkan, firman didengungkan, pengajaran diperdengarkan, doa dipanjatkan, berkat dibagikan.

Ada getar dalam suara yang menggelegar. Meski tak fasih lagi mengucapkan beberapa aksara, semangatnya dalam kata, begitu menggetarkan jiwa.

Sejenak aku teringat akan seorang oma; dalam renta tujuh puluh tahunnya masih setia belajar ke tempat yang tidak bisa dibilang dekat dengan rumahnya, meski tak ada yang mengantar; untuk dapat memberi nasihat yang tepat pada anak dan cucunya; tanpa berkeluh.

Sejenak aku teringat pada Nick; tanpa kedua kaki dan kedua tangan, ia memberi semangat pada mereka yang memiliki keutuhan fisik; tanpa berkeluh.

Sejenak aku terkenang akan Morrie; dalam menghadapi mati, ia memberi makna hidup; tanpa berkeluh.

Aku terdiam dalam nada piano dan saxophone yang mengalun. Air mata mulai menggenang. Terbayang percakapanku dengan seorang sahabat di saat ketika aku membuka mata pagi ini:

“Ada tiga jerawat mampir di wajahku sejak kemarin. Aku sama sekali tidak bermasalah dengan penampakanku. Bagiku jerawat membuatku lebih manis J, tapi suakiiitttnya ini loh. Yang dua itu guede-guede, kalo disentuh sakit. Hu uh, sebel deh.. Mana ga bisa dipencet lagi.. ”

Ini hanya satu contoh kecil. Ah, aku masih seringkali berkeluh untuk banyak hal yang sebenarnya tidak pantas dikeluhkan dalam utuhnya fisikku, sehatnya ragaku, mudanya usiaku.

Aku malu. Ampuni aku ya, Tuhan.

tidak perlu judul

Stasiun Gambir, Hari Bebas, Malam.


Telah lama aku tidak ke tempat ini. Seperti halnya di tiap sudut ruang publik yang

ramai, ketika sampai di dalamnya, aku berdiri sejenak untuk memandangi dan

menikmati pemandangan peluh dan keluh beratus manusia dengan beribu raut dan

rupa. Menyenangkan.

Aku menatap loket-loket yang berjejer seraya mencari kata Bandung di kolom tujuan.

Arloji di tangan kananku menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh. Aku kehilangan

Parahyangan terakhir. Masih ada Argo Gede. Selisih tiga puluh ribu rupiah. Tak

mengapa, pikirku. Rindu yang sudah menyeruak tak membuatku berpikir lama untuk

membeli satu lembar tiketnya.

Masih ada 40 menit sebelum kereta berangkat. Aku membeli satu kotak makanan

Jepang siap saji untuk membungkam perutku dari masuknya angin malam. Sesekali

aku menghubungimu dengan deret kata dalam telepon genggamku. Kamu

menungguku, sambil menyeruput coklat panas.

Dua jam empat puluh menit lamanya perjalanan kereta yang kunaiki. Dibandingkan

dengan perjalanan daratku lainnya pada waktu-waktu yang silam, harusnya 2,40

adalah waktu yang sangat singkat. Namun entah apa yang membuatnya menjadi

perjalanan terlama sepanjang hidupku. Degup jantung yang berdebar, kantuk yang

tertahan, rindu yang menggebu; mungkin itu alasannya.

Stasiun Hall, pukul sepuluh lewat dua puluh. Keretaku tiba. Kamu berdiri di sana. Di

satu tempat, dengan senyum mengembang. Kita bersua lagi setelah sepertujuh belas

koma tiga puluh tiga tahun yang terasa sangat lama.

Aku senang sekali.


(Hey, terima kasih untuk judulnya, ya… :) )

WordPress Themes