tidak ada yang senyaman ini

Don’t go changing, to try and please me / You never let me down before / Don’t imagine you’re too familiar / And I don’t see you anymore

I wouldn’t leave you in times of trouble / We never could have come this far / I took the good times, I’ll take the bad times / I’ll take you just the way you are

Don’t go trying some new fashion / Don’t change the color of your hair / You always have my unspoken passion / Although I might not seem to care

I don’t want clever conversation / I never want to work that hard / I just want someone that I can talk to / I want you just the way you are

I need to know that you will always be / The same old someone that I knew / What will it take till you believe in me / The way that I believe in you

I said I love you and that’s forever / And this I promise from the heart / I could not love you any better / I love you just the way you are

(Just the Way You Are, Billy Joel)

Ketika aku dan kamu tidak perlu berubah untuk mencintai dan dicintai,

ketika perubahan terjadi hanya karena kita sendiri, begitu alami,

ketika kamu menerima paketku, dan sebaliknya,

ketika aku hanya menjadi aku,

kamu hanya menjadi kamu,

ketika kita hanya menjadi kita;

nyaman.

Nyaman sekali.

Dan aku kian mencintaimu.

- dan aku yakin bahwa kenyamanan adalah yang utama; dan aku percaya bahwa God creates somebody for someone J - 

Menatap Langit

Malam ini aku menatap langit. Ada bulan sabit cantik yang didampingi satu bintang di sebelahnya. Sabit yang tidak seperti sendok yang mencekung, spion yang mencembung, atau payung yang melengkung ke bawah; sabit yang kulihat kali ini melengkung ke atas; membentuk satu simpul senyum.

Mungkin bulan memang sedang tersenyum; mengetahui ada satu bintang yang selalu ada di dekatnya. Iya, kalau kamu senang memperhatikan langit, selalu ada satu bintang yang kerap berada di sisi bulan, saat semua bintang yang lain tak nampak.

Kamu tau, ada satu pemandangan bulan yang berdampingan dengan satu bintang yang sangat kuingat jelas dalam benakku. Kala itu tengah malam. Aku dan kamu berjalan kaki menyusuri jalan malioboro di kota kita. Kita menyusurinya dari utara ke selatan kemudian kembali lagi dari selatan ke utara. Sepi. Hanya beberapa pasang mata yang menemani kita di sepanjang jalan yang bukan main gaduhnya pada siang hari. Dan ketika kita menatap langit, kita terpana; bulan berada tepat di atasku, dan bintang di atasmu. Kita tersenyum. Aku dan kamu; bulan dan bintang. Kamu mengingatnya?

Dari jalan malioboro, bulan dan bintang terus menemani kita berkisah; di bangku panjang stasiun, di lorong gerbong kereta yang menuju ke Timur, di sebuah becak, di bus yang melaju cepat, sampai di suatu tempat yang kita sebut ujung pelangi. Di ujung pelangi itu, bulan dan bintang sangat dekat dengan kita, begitu dekatnya hingga hampir saja kita raih dan bawa pulang; menjadi oleh-oleh dari sang fajar saat embun muncul dengan malu-malu. Ah, kamu pasti ingat saat itu.

Aku suka menatap langit di malam hari. Tidak selamanya langit cerah, namun tak selalu juga ia kelam. Dan bulan dan bintang yang menggantung di sana, tidak pernah mereka gentar akan pekat. Kebersamaan mereka. Ya, mungkin itu yang membuat mereka tetap di sana; tersenyum dan bercahaya.

Aku suka menatap langit di malam hari; terutama langit yang dihiasi sebentuk bulan dan sebentuk bintang.

Aku suka menatap langit; seperti aku suka menatap dalam dan teduhnya tatapan matamu.

-Cuma mau bilang kalo aku kangen kamuJ -

WordPress Themes