Archive for » 2006 «

poliandri & poligami

jika aku ditanya tentang hal itu,

jawabku hanya satu:

"urusan kamar tidak bisa dibagi!"

itu saja.

Pagi ini hujan

Pagi ini hujan. Aku berada di lantai tiga, duduk dekat dengan jendela. Aku bisa melihat dengan jelas rintiknya, bukan gerimis, bukan deras. Menawan. Ingin ku berlari di bawahnya.

Pagi ini hujan. Hujan di akhir november, sejuk, mengingatkanku pada natal yang semakin mendekat. Aku suka.

Pagi ini hujan. Ada rindu yang menelusup dalam hati. Hangat.

Pagi ini hujan. Hujan yang tidak dingin, namun hangat.

makan siang

191106_1223 Nama mereka Izah dan Fitri. Waktu aku temui, Izah sedang duduk menangis di atas trotoar sementara Fitri sedang berjalan menghampiri sebuah mobil, menyanyikan sepenggal bait lagu, mengulurkan tangannya, kemudian pergi ke mobil yang lain.

Saat itu siang, hari matahari. Bukan hanya pada saat hari matahari kurasa. Belakangan ini suhu kota Jakarta (juga daerah lainnya), meningkat cukup drastis. Panas begitu menyengat, peluh yang keluar dari tubuh dalam seketika menguap ditelan terik.

“Makan siang, yuk!” ajakku pada mereka, “belum makan kan?”

Mereka mengangguk.

“Mau makan di mana?” tanyaku.

Mereka tidak menjawab, hanya berpandang-pandangan sambil tersipu-sipu.

“Kita makan di situ ya!” aku menunjuk sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari tempat kami berdiri “kita makan ayam dan minum es krim, oke?”

Sekali lagi, mereka hanya mengangguk dan tersenyum.

Dua gadis mungil yang manis dengan penampilan tak terawat. Izah kelas dua, Fitri kelas lima. Bapak Izah yang seorang loper koran kini telah tiada, tinggal seorang ibu yang acap menjual nasi. Bapak Fitri seorang supir dan ibunya tidak bekerja. Jumlah keluarga yang besar, membuat mereka mengamen karena keadaan dan bukan karena pilihan.

Aku tidak tahu, apakah makan siang tadi itu menjadi hadiahku buat mereka atau tidak.

Namun bagiku, aku mendapat hadiah yang besar dari mereka:

senyum-senyum mereka yang begitu tulus.

- aku semakin mengerti maksud Tuhan ketika Ia mengatakan “Adalah lebih bahagia memberi daripada menerima” -

keluh

Minggu pagi. Aku pergi ibadah di sebuah gereja di Panglima Polim. Meski aku memiliki phobia pada ketinggian, duduk di balkon adalah kesukaanku. Mengambil tempat yang satu garis lurus dengan mimbar pendeta, hingga leherku tidak perlu sakit menoleh ke kanan atau ke kiri, dan mataku berhenti sejenak dari kebiasaan melirik-lirik, hihihi.

Suasana teduh. Semua telah siap. Ibadah dimulai. Pada lagu pertama, pendeta yang memimpin ibadah memasuki ruangan. Dan aku terkesiap!

Pagi itu, ibadah dipimpin seorang pendeta yang kukenal melalui tulisan-tulisannya. Pendeta itu sudah tidak muda lagi. Entah karena usia atau karena sakit yang menimpa, beliau jalan tertatih-tatih, tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya seorang diri. Perlu dua orang majelis yang mengapit tangannya untuk menyanggah tubuhnya dari gontai.

Tak kuasa untuk menaiki tangga, beliau menggunakan mimbar yang di bawah, yang sejajar dengan jemaat. Ketika kedua tangan telah menggapai mimbar, beliau dilepas dan mulai memimpin ibadah.

Votum diucapkan, salam disampaikan, pujian dihaturkan, firman didengungkan, pengajaran diperdengarkan, doa dipanjatkan, berkat dibagikan.

Ada getar dalam suara yang menggelegar. Meski tak fasih lagi mengucapkan beberapa aksara, semangatnya dalam kata, begitu menggetarkan jiwa.

Sejenak aku teringat akan seorang oma; dalam renta tujuh puluh tahunnya masih setia belajar ke tempat yang tidak bisa dibilang dekat dengan rumahnya, meski tak ada yang mengantar; untuk dapat memberi nasihat yang tepat pada anak dan cucunya; tanpa berkeluh.

Sejenak aku teringat pada Nick; tanpa kedua kaki dan kedua tangan, ia memberi semangat pada mereka yang memiliki keutuhan fisik; tanpa berkeluh.

Sejenak aku terkenang akan Morrie; dalam menghadapi mati, ia memberi makna hidup; tanpa berkeluh.

Aku terdiam dalam nada piano dan saxophone yang mengalun. Air mata mulai menggenang. Terbayang percakapanku dengan seorang sahabat di saat ketika aku membuka mata pagi ini:

“Ada tiga jerawat mampir di wajahku sejak kemarin. Aku sama sekali tidak bermasalah dengan penampakanku. Bagiku jerawat membuatku lebih manis J, tapi suakiiitttnya ini loh. Yang dua itu guede-guede, kalo disentuh sakit. Hu uh, sebel deh.. Mana ga bisa dipencet lagi.. ”

Ini hanya satu contoh kecil. Ah, aku masih seringkali berkeluh untuk banyak hal yang sebenarnya tidak pantas dikeluhkan dalam utuhnya fisikku, sehatnya ragaku, mudanya usiaku.

Aku malu. Ampuni aku ya, Tuhan.

tidak perlu judul

Stasiun Gambir, Hari Bebas, Malam.


Telah lama aku tidak ke tempat ini. Seperti halnya di tiap sudut ruang publik yang

ramai, ketika sampai di dalamnya, aku berdiri sejenak untuk memandangi dan

menikmati pemandangan peluh dan keluh beratus manusia dengan beribu raut dan

rupa. Menyenangkan.

Aku menatap loket-loket yang berjejer seraya mencari kata Bandung di kolom tujuan.

Arloji di tangan kananku menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh. Aku kehilangan

Parahyangan terakhir. Masih ada Argo Gede. Selisih tiga puluh ribu rupiah. Tak

mengapa, pikirku. Rindu yang sudah menyeruak tak membuatku berpikir lama untuk

membeli satu lembar tiketnya.

Masih ada 40 menit sebelum kereta berangkat. Aku membeli satu kotak makanan

Jepang siap saji untuk membungkam perutku dari masuknya angin malam. Sesekali

aku menghubungimu dengan deret kata dalam telepon genggamku. Kamu

menungguku, sambil menyeruput coklat panas.

Dua jam empat puluh menit lamanya perjalanan kereta yang kunaiki. Dibandingkan

dengan perjalanan daratku lainnya pada waktu-waktu yang silam, harusnya 2,40

adalah waktu yang sangat singkat. Namun entah apa yang membuatnya menjadi

perjalanan terlama sepanjang hidupku. Degup jantung yang berdebar, kantuk yang

tertahan, rindu yang menggebu; mungkin itu alasannya.

Stasiun Hall, pukul sepuluh lewat dua puluh. Keretaku tiba. Kamu berdiri di sana. Di

satu tempat, dengan senyum mengembang. Kita bersua lagi setelah sepertujuh belas

koma tiga puluh tiga tahun yang terasa sangat lama.

Aku senang sekali.


(Hey, terima kasih untuk judulnya, ya… :) )

tidak ada yang senyaman ini

Don’t go changing, to try and please me / You never let me down before / Don’t imagine you’re too familiar / And I don’t see you anymore

I wouldn’t leave you in times of trouble / We never could have come this far / I took the good times, I’ll take the bad times / I’ll take you just the way you are

Don’t go trying some new fashion / Don’t change the color of your hair / You always have my unspoken passion / Although I might not seem to care

I don’t want clever conversation / I never want to work that hard / I just want someone that I can talk to / I want you just the way you are

I need to know that you will always be / The same old someone that I knew / What will it take till you believe in me / The way that I believe in you

I said I love you and that’s forever / And this I promise from the heart / I could not love you any better / I love you just the way you are

(Just the Way You Are, Billy Joel)

Ketika aku dan kamu tidak perlu berubah untuk mencintai dan dicintai,

ketika perubahan terjadi hanya karena kita sendiri, begitu alami,

ketika kamu menerima paketku, dan sebaliknya,

ketika aku hanya menjadi aku,

kamu hanya menjadi kamu,

ketika kita hanya menjadi kita;

nyaman.

Nyaman sekali.

Dan aku kian mencintaimu.

- dan aku yakin bahwa kenyamanan adalah yang utama; dan aku percaya bahwa God creates somebody for someone J - 

Menatap Langit

Malam ini aku menatap langit. Ada bulan sabit cantik yang didampingi satu bintang di sebelahnya. Sabit yang tidak seperti sendok yang mencekung, spion yang mencembung, atau payung yang melengkung ke bawah; sabit yang kulihat kali ini melengkung ke atas; membentuk satu simpul senyum.

Mungkin bulan memang sedang tersenyum; mengetahui ada satu bintang yang selalu ada di dekatnya. Iya, kalau kamu senang memperhatikan langit, selalu ada satu bintang yang kerap berada di sisi bulan, saat semua bintang yang lain tak nampak.

Kamu tau, ada satu pemandangan bulan yang berdampingan dengan satu bintang yang sangat kuingat jelas dalam benakku. Kala itu tengah malam. Aku dan kamu berjalan kaki menyusuri jalan malioboro di kota kita. Kita menyusurinya dari utara ke selatan kemudian kembali lagi dari selatan ke utara. Sepi. Hanya beberapa pasang mata yang menemani kita di sepanjang jalan yang bukan main gaduhnya pada siang hari. Dan ketika kita menatap langit, kita terpana; bulan berada tepat di atasku, dan bintang di atasmu. Kita tersenyum. Aku dan kamu; bulan dan bintang. Kamu mengingatnya?

Dari jalan malioboro, bulan dan bintang terus menemani kita berkisah; di bangku panjang stasiun, di lorong gerbong kereta yang menuju ke Timur, di sebuah becak, di bus yang melaju cepat, sampai di suatu tempat yang kita sebut ujung pelangi. Di ujung pelangi itu, bulan dan bintang sangat dekat dengan kita, begitu dekatnya hingga hampir saja kita raih dan bawa pulang; menjadi oleh-oleh dari sang fajar saat embun muncul dengan malu-malu. Ah, kamu pasti ingat saat itu.

Aku suka menatap langit di malam hari. Tidak selamanya langit cerah, namun tak selalu juga ia kelam. Dan bulan dan bintang yang menggantung di sana, tidak pernah mereka gentar akan pekat. Kebersamaan mereka. Ya, mungkin itu yang membuat mereka tetap di sana; tersenyum dan bercahaya.

Aku suka menatap langit di malam hari; terutama langit yang dihiasi sebentuk bulan dan sebentuk bintang.

Aku suka menatap langit; seperti aku suka menatap dalam dan teduhnya tatapan matamu.

-Cuma mau bilang kalo aku kangen kamuJ -

Suatu Sore di Hari Bintang

Jepit Pernah jalan-jalan (baca: berjalan kaki) di Fly Over Semanggi? Aku pernah, pada suatu sore di hari bintang. Setelah satu bulan tinggal kembali di Jakarta, baru saat itulah aku benar-benar jalan-jalan. Mencoba menikmati Jakarta. Ternyata Jakarta memiliki satu sudut cantik juga!:)

45 menit sebelumnya, Kaos merah marun, celana jeans biru, dan sandal jepit kamar mandi. Apalagi ya? Hmm, dompet dan HP. Sudah. Ransel kesayangan? Hmm, tidak perlu, toh aku Cuma membawa dompet dan HP. Keduanya cukup kusimpan di saku celana. Dan aku melenggang ringan.

Sore itu aku ke Plaza Semanggi. Iya, memang tidak boleh ke sana dengan sandal jepit, saat banyak (bahkan hampir semua) perempuan-perempuan di sana, kecil-besar, muda-tua, mengenakan seluruh “perlengkapan perang” mereka! Tidak, aku bukan sinis dengan mereka, hanya terkadang aku tidak habis pikir, untuk berbelanja, makan, atau sekedar main, perlukah tas pesta, rok cantik, high heels, dan kosmetik di wajah (lengkap dengan bolak balik ke kamar mandi untuk melihat apakah kosmetik yang mereka gunakan sudah luntur ditelan AC). Duh, aku harusnya tidak boleh seperti ini! Ya, mereka punya keunikan tersendiri yang aku tak punya dan aku akan menghargai mereka. Namun bagiku, untuk urusan penampilan: FuNGsI itu nomor 1 dan EsTeTiKa nomor 10. Dan nomor 2 – 9 nya adalah KeNYaMANan!

Dari kost-ku, aku harus menaiki 2 bis untuk dapat mencapai tempat tujuan. Di bis yang kedua, aku terpesona oleh suara seorang pengamen: seorang bapak separuh baya, dengan sepasang kaki yang panjangnya tidak lebih dari 30cm. Dia bernyanyi dengan semangat, tidak minta dikasihani seperti yang lainnya yang justru memiliki tubuh normal. Dan suaranya.. aih, sungguh merdu! Aku tersenyum padanya kala ia menyayikan sebuah lagu Kang Ebiet. Dan ia membalas senyumku. Ah, aku suka dengan semangatnya! “Senayan, senayan!” ujar Pak Kondektur membuayarkan kekagumanku pada sang pengamen. Gubrak, Plaza Semanggi sudah lewat! “Kiri, Bang!”

Ada dua pilihan, menyebrang dengan jembatan penyebrangan dan menaiki bis yang ke arah Plaza Semanggi atau berjalan kaki saja dan menyebrang jika sudah di depan Plaza Semanggi. Aku pilih yang kedua. Kapan lagi berjalan kaki di tengah keruwetan Jakarta. Hmm, lagipula sore itu tidak ruwet, itu sebabnya aku suka.

Aku mulai berjalan. Beriringan dengan dua lelaki yang tak kukenal, yang pada akhirnya aku tinggalkan mereka jauh di belakang. Aku berjalan lambat, tapi mereka sungguh amat lambat. Kemudian aku beriring dengan ibu pedagang siomay yang menggunakan caping di kepalanya. Ia membawa dagangan di sepedanya. Kita bersama-sama melewati satu sisi panjang Hotel Hilton dan akhirnya kita berpisah di tikungan. Ia berbelok, sementara aku berjalan lurus saja. Hati-hati, Bu!

Berjalan lagi, menikmati mobil-mobil yang di bawah Fly Over, berderet dan menanjak. Kali ini aku kembali berpapasan dengan 2 pedagang rujak tumbuk. Mereka memikul dagangannya. Sempat terbersit untuk membeli dan memakannya di tengah perjalanan itu. Aku sudah lama sekali tidak makan rujak tumbuk Jakarta. Tapi ah, tidak. Aku belum makan siang.

Berjalan lagi, melewati bapak polisi yang sigap bertugas (Pak, Bapak juga sedang menikmati sudut ini; seperti saya? Atau sudah bosan dengan pemandangan yang menjadi makanan sehari-hari Bapak ini?)

Berjalan lagi, melewati taman-taman kecil pembatas jalan (Hey, ada satu kursi panjang di taman! Waduh, untuk apa yah? Oh, aku tau, untuk para pedagang yang kelelahan dan ingin mengaso sebentar mungkin)

Berjalan lagi, memandang ke depan, ke belakang, dan sekitar. Hmm, tidak buruk. Cantik juga pemandangan gedung-gedung ini. Berjalan lagi, melewati kuli-kuli bangunan yang sedang bekerja mencangkul parit di sepanjang sisi sebuah bangunan.

Berjalan lagi, melewati percik-percik kecil air dari keran yang tertanam, yang digunakan untuk menyejukkan tanah dan rumput taman kota.

Berjalan lagi, hingga akhirnya sampai di jembatan penyebrangan yang kumaksud. Banyak orang di sini. Tangga yang tinggi dan seorang ibu yang terengah-engah menaikinya. “Mari berjalan bersama saya, Bu! Mau saya gandeng?”

Berjalan lagi, dan sampai di Plaza Semanggi untuk menyelesaikan sebuah perjalanan lima setengah tahun yang indah.

- Terima kasih untuk perjalanan 5,5 tahun itu; aku tau jika maaf tidak akan pernah cukup -

Siapa yang dapat tahan, sayang

Revaku_1

Memandang sepasang bola matamu yang jenaka

Mengagumi bibir tipis merah jambumu kala terdiam, tersenyum dan tergelak

Aku tertawan oleh ketampanan dan keluguanmu

Ya, potongan demi potongan foto-fotomu mu memenuhi monitorku satu hari ini;

Datang berganti-ganti, menjadi slideshow dalam screensaver-ku;

menggemaskan, menarik kedua ujung bibirku hingga membentuk simpul senyum,

dan membuatku sesekali berseru, “Aku benar-benar mencintaimu!”

Betapa lihai kau menghiburku, sayang;

dalam muramku, dalam sedihku, dalam hampaku; hari ini

Ada damai jika mengingatmu.

Perasaan menjadi orang yang paling dibutuhkan di dunia ini, olehmu;

ketika kau melingkarkan kedua tangan kecilmu di leher ini; rangkulku dengan sangat erat. Erat sekali.

Ah, tante merindukanmu, sayang.

(00:16 a.m, 11 Juni 2006, kamar kost – hey, aku sudah 1 minggu menjadi anak kost! :D ) 

perjalanan ke ujung pelangi

biarlah itu kusimpan itu dalam sebuah ruang cantik di sudut hatiku yang paling dalam; di tempat yang tak seorang pun dapat merampasnya, atau bahkan sekedar menyentuhnya.

dan ketika aku butuh tersenyum; entah di kala hujan, entah terik, entah cerah, entah berawan; aku tau di mana aku harus mencarinya.